Kamis, 09 Juni 2011

KEKUATAN NASIONAL

Hans J Morgentahu dalam Politics Among Nations: The Struggle for Power and Peace menyebutkan secara jelas unsur-unsur kekuatan nasional sebuah negara. Sedikitnya ada sembilan karakter yang menentukan kuat dan lemahnya sebuah negara.
Pertama, Geografi. Posisi geografi sebuah negara bisa menguntungkan dan bisa pula merugikan. Spanyol terpisah dari negara Eropa lainnya karena Pegunungan Pirenea sehingga tidak semaju Eropa lainnya. Geografi ini tidak gampang berubah sehingga menjadi modal sangat besar bagi sebuah negara.

Kedua, Sumber Daya Alam. Faktor kedua ini penting karena seperti dialami Indonesia, sebenarnya kekayaan alam sangatlah melimpah. Ekspor migas telah memberikan kemakmuran kepada Indonesia namun ada faktor lain yang lemah sehingga sumber daya alam ini seperti penambangan tembaga oleh Freeport di Irian Jaya tidak bisa menghasilkan kemakmuran seperti yang diberikan migas. Contoh lain, mengapa Indonesia yang subur harus mengalami kelaparan atau kesulitan beras ? Dimana kesalahannya ? Pertanyaan ini menarik karena beras dan minyak goreng yang jadi salah satu kebutuhan pokok naik harganya beberapa ratus persen sedangkan wilayah Indonesia subur untuk menghasilkan pangan yang cukup.

Ketiga, dalam dunia modern kemampuan industri juga ikut menentukan kekuatan sebuah negara apakah ia lemah atau kuat. Hampir seluruh negara di muka bumi mengejar industrialisasi untuk menjadikan negaranya makmur dan bisa bersaing dengan negara lain. Oleh karena itu sebuah negara kuat, saat ini, bila tergolong kedalam tujuh negara industri (G-7).

Menurut Morgenthau, faktor keempat menyangkut kesiagaan militer. Apalah artinya kekayaan sumber daya sangat besar, industri maju dan posisi juga strategis kalau tidak bisa dipertahankan. Dengan kata lain, militer merupakan unsur penting dalam sebuah negara agar bisa menjamin keamanan, kenyamanan dan stabilitas.

Faktor kelima penunjang kekuatan nasional adalah penduduk. Yang menyangkut faktor ini adalah terutama soal penyebarannya dan komposisinya. Jika jumlah penduduk terkonsentrasi di satu tempat, dikhawatirkan malah mengundang banyak masalah. Komposisi penduduk terlalu banyak generasi tua dibanding yang muda juga mengundang berbagai soal seperti tenaga kerja aktif yang sedikit untuk memikul beban seluruh penduduk.

Sebenarnya faktor keenam ini menyangkut soal penduduk tapi lebih kualitatif yakni menyangkut soal Karakter Nasional.Morgenthau memberikan sejumlah contoh tentang karakter nasional seperti kekuatan dan kegigihan dasar orang Rusia, inisiatif dan daya cipta pribadi orang Amerika, pemikiran sehat orang Inggris yang tidak dogmatis, disiplin dan ketelitian orang Jerman. Karakter nasional ini jelas menentukan daya kompetitif suatu negara dalam percaturan internasional.

Ketujuh, Moral Nasional. Istilah ini merujuk kepada sesuatu yang lebih abstrak tapi juga merupakah pilar penting dalam menopang kekuatan sebuah bangsa. Moral nasional itu memancar ke berbagai sektor mulai dari sektor pertanian, industri sampai dengan militer dalam memberikan arti bagi negaranya. Semangat pengabdian, misalnya, adalah salah satu ciri faktor ketujuh ini.

Kedelapan, Kualitas Diplomasi. Dalam konteks luas, sebuah negara yang hidup dalam lingkungan internasional perlu memiliki diplomat-diplomat unggul dalam mencari peluang-peluang lebih besar serta mengantisipasi bahaya yang akan datang. Barangkali, perubahan kapitalisme global dimana kelompok spekulator di pasar uang telah sangat kuat seharusnya menjadi sorotan diplomat ini sehingga antisipasi bahaya yang tak kelihatan ini bisa lebih dini dilacak.

Kesembilan, Kualitas Pemerintah tentu sangat penting dan relevan bagi Indonesia untuk keluar dari krisis sekarang. Setelah 32 tahun masa Orde Baru, terlihat banyak kelemahan yang perlu dibenahi mulai dari ekonomi, sosial, politik sampai militer. Diawal berlangsungya reformasi, indonesia malah dicap sebagai sarang teroris setelah berbagai rentetan aksi terorisme, seperti di bali,dll.
Tentunya kualitas pemerintah dimana terjadi suksesi yang damai dan stabil serta kebijakan yang mencerminkan aspirasi rakyat menjadi sebuah kemestian bagi kuatnya sebuah bangsa.

Paca pagelaran pesta demokrasi yang berlangsung beberapa waktu yang lewat kiranya dapat membangkitkan kembali harapan untuk kemakmuran bagi rakyat Indonesia di tengah krisis yang parah ini..
(..dikutip dari berbagai sumber.)


"Hati yang gembira adalah obat"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar